Tuesday, 14 August 2012

Before Me


CHAPTER 1


Seorang gadis berambut cokelat tua berlari turun dari tangga dan langsung menuju meja makan. Ia memakai kemeja putih wanita berkerah bulat dan lengan pendek balon yang pas sekali dengan lengannya. Sebuah pita hitam tersimpul di lehernya dengan rapi. Rok selutut yang senada dengan dasinya pun dalam keadaan rapi dan pantas sekali. Saat ia melangkah mendekati kedua orangtuanya, rambutnya yang panjang digerai dibelai angin sepoi-sepoi yang masuk melalui taman di sebelah ruang makan. Matanya yang sipit berwarna biru cerah, hidungnya kecil tapi mancung, bibirnya yang tipis kecil dan warnanya semerah darah, dagunya yang manis serta pipinya yang selalu merona pink tanpa sentuhan make up mebuat wajahnya manis sekali.
Langkahnya kecil dan gemulai, tubuhnya sangat proporsional. Kulitnya putih seperti ayahnya, namun merona seperti sang Mama. Begitu melihat Papa Mamanya menoleh ke arahnya, ia mempercepat langkah dan langsung melemparkan senyum. Segera ia mengahampiri dan merangkul ayahnya dari belakang.
“Pagi, Papa! Pagi, Mama! Pagi kakakku Edwward yang ganteng! Kok tadi ga bangunin aku sih?”
“Habis kamu tidurnya lelap banget, sayang. Papa ga tega ah bangunin bidadari yang lagi tidur.”
“Ahh, Papa nih... Hahaha...”
“Aduh, ini anak sama Papa kompak banget deh ya. Kalo udah sibuk berdua, Mama dilupain deh...”
Ia beranjak lebih dekat pada Mamanya, “Ahh, Mama nih... Engga dong, Ma. Masa aku lupa sama Mama...”
“Iya, sayang... Mama tau kok...”, Mama tersenyum “udah, sekarang kamu duduk, terus kita sarapan ya.”
“Ih, si putri tidur udah bangun nih? Ga tunggu dicium pangeran dulu? Hahaha...”
“Hmm... Mulai deh Kak Edward ngeledek lagi...”, Edelline memanyunkan bibirnya dan memasang wajah cemberut.
“Ahahaha... Aduh, adikku sayang, Edelline cantik, jangan ngambek dong... Kakak kan Cuma bercanda...” ucap Edward menghibur adik kesayangannya itu sambil mengacak-acak rambut Edelline.
“Ihh... Kak Edward nih selalu deh ngacak-ngacak rambut aku! Kenapa? Rambut artis sih ya? Hahaha”
“Wah, kamu ini kepedean ato emang pede abis, Line? Hahaha”
Tawa ceria selalu menghiasi kebersamaan mereka. Meskipun yang terjadi adalah rutinitas seperti biasa, cinta kasih di antara mereka membuat setiap detik kebersamaan  layaknya harta yang sangat berharga.
“Elline, berangkat yuk! Kakak udah beres nih makannya... Kamu lama banget...”
“Loh? Bukannya Pa Dirman yang nganter aku?”
“Ehh,,, Pa Dirman kan mau nganter Papa... Kok kamu monopoli sih? Hahaha...”
“Ah? Serius nih, Pa... Jadi tiap hari aku berangkat sama siapa nih?”
“Sama Kakakmu yang ganteng ini loh, Elline...”
“Hahaha... Elline, kamu ternyata udah sama narsisnya sama Edward ya... Hahaha... Iya, kan kampus kakakmu deket sama sekolahmu, jadi kamu berangkatnya sama Kak Edward ya?”
“Owh... Oke, Papa! Iya dong, kan aku adiknya Kak Edward! Hahaha...”
“Ihh,,, putri Solo lama yah... Ayo cepetan! Kakak ada kelas nih jam 8.”
“Ehh, udah-udah. Ini udah jam berapa tuh? Cepetan sana berangkat. Kamu juga, Pa. Kamu hari ini berangkat ke Korea kan?”
“Asik! Papa ke Korea! Jangan lupa oleh-oleh ya, Pa! Hahaha...” jerit Edelline sambil membentangkan kedua tangannya di atas kepala lalu memeluk Papanya yang juga dibalas dengan pelukan hangat sang Papa.
“Iya, Elline, sayang... Udah gih kamu berangkat!”
“Bye, Pa! Bye Ma!”, Edelline bergerak lincah seraya mencium pipi Mamanya lalu melambaikan tangan.
“Dadah Papa, dadah Mama!”, Edward mengikuti.
Dua remaja itu pun melangkah keluar dengan canda menyertai. Mereka melewati jalan kecil yang di desain khusus sesuai selera Mamanya dengan bebatuan kecil. Jalan itu lebarnya kira-kira satu meter dan di pinggirnya ditanami rumput jepang yang sangat hijau. Dari jalan itu, ada bagian kosong yang hanya ditanami rumput jepang, panjangnya sekitar empat meter dan lebarnya tiga meter.
Baru setelahnya terlihat rumpun bunga-bunga yang sangat indah. Kentara sekali bahwa rumpun bunga itu mendapatkan perawatan yang sangat baik. Mawar, anggrek, lili, anyelir, teratai di kolam ikan kecil , morning glory, bunga terompet di sudut taman, lavender, bugenvil yang ditanam mengitari rumah, kamboja dalam pot-pot kecil yang ditaruh di undakan-undakan tangga di depan rumah yang menuju ke taman, dan beberapa jenis bunga liar yang sengaja ditanam di sekitar rumah menambah keindahan taman itu.
Edward melangkah ke garasi yang terletak di samping rumah. Garasi itu cukup besar karna cukup untuk melindungi tiga buah –yang akan segera menjadi empat buah- mobil di dalamnya. Edward menyuruh Edelline untuk menunggu di dekat kolam ikan.
Jika dilihat dari atas, akan terlihat jelas seisi taman yang indah serta tatanan rumah itu. Pintu utama rumah dengan pagar dihubungkan dengan jalan bebatuan kecil selebar satu meter, dan di tengah jalan itu dibuat sebuah kolam ikan berbentuk lingkaran dengan sebuah air mancur utama di tengahnya dan lima air mancur kecil berbentuk kura-kura di tepi kolam yang arah aliran airnya menuju ke pusat kolam. Kolam itu membuat jalan tersebut bercabang mengitari sisi kolam dan sisi yang lain hingga akhirnya bertemu lagi pada jalur yang sama menuju pintu gerbang. Gerbang itu terkesan mewah namun sederhana. Rangkanya terbuat dari baja namun tubuhnya sengaja menggunakan kayu berwarna cokelat gelap.
Edelline sangat betah berlama-lama di sana. Ia suka sekali duduk di tepian kolam sambil memandangi ikan-ikan yang berenang ke sana – ke mari seolah-olah menyadari kehadirannya. Sesaat ikan-ikan itu seperti hendak bersembunyi di bawah rentangan daun-daun bunga teratai berwarna merah jambu yang menghiasi permukaan kolam. Angin pagi yang lembut membelai-belai rambutnya. Rasanya nyaman sekali, ingin lebih lama menikmati suasana itu. Edelline memutuskan untuk mengamati kolam itu sambil berjalan mengitarinya. Ia suka menyentuh kelima kepala air mancur kecil yang menghadap ke pusat kolam itu. Saat hendak menyentuh salah satunya, matanya tertarik pada beberapa goresan kecil yang tampak teratur di punggung kura-kura itu. Ia duduk sebentar dan memperhatikan.
Evander Louis Gregory
“Eh, ini kan nama Papa! Mmm... Kayanya di tiap kura-kura ada namanya deh... Coba gue liat ah... Lumayan daripada bengong nungguin Kak Edward. Hihihi...”
Ia pun melangkahkan kakinya ke arah barat. Edelline memiliki indra keenam yang sering disebut-sebut sebagai bakat –juga kutukan- yang diberikan Tuhan dengan tujuan tertentu.
Dianna Lee
“Nama Mama!”
Tanpa pikir panjang, gadis remaja itu meneruskan langkahnya ke arah barat laut dengan lebih cepat. Ada perasaan yang menariknya dan mendorong rasa ingin tahu yang begitu besar dalam dirinya.
Edward Lovianno Gregory
“Tepat dugaan gue! Tiap kura-kura ini emang diukir sesuai nama tiap anggota keluarga! Kalo gitu, yang satu itu pasti punya g!”
Langkah kaki si gadis semakin cepat ke arah utara. Entah mengapa tapi ia merasa begitu tertarik. Seolah tiap penggalan nama di punggung kura-kura itu adalah kepingan-kepingan puzzle yang akan membawanya pada sesuatu.
“Aha! Ini dia nama gue! Hahaha...”, dengan lincah ia segera duduk di sisi kura-kura yang besarnya kira-kira dua kali bentangan telapak tangannya. Kura-kura nampak manis bertengger di sisi kolam. Warnanya cokelat kehijauan, begitu serasi dengan sekitarnya.
Edelline Lovianna Gregory
“Tapi kan kura-kuranya ada lima... Sedangkan di rumah kan cuma berempat. Yang satu lagi punya siapa ya?”
Seketika itu juga jantungnya berdebar kencang. Wajahnya berubah pucat dan keringat dingin mulai membasahi keningnya. Sekujur tubuhnya gemetar, kepalanya terasa pening. Ia lemas. Pandangannya terus tertuju pada kura-kura yang terakhir.
“Gue ini kenapa sih? Cuma penasaran doang kok sampe gemeter gini? Mmm... Kak Edward bilang paling lama lima menit... Kalo gitu, gue cek aja deh. Mumpung masih ada waktu.”
Ia mulai melangkahkan kakinya menapaki jalan yang mengitari kolam itu. Kali ini ia melangkah perlahan-lahan. Entah mengapa rasanya ia akan menyesali keingintahuannya kali ini. Tapi ia akan lebih menyesal lagi jika tidak mencari tahu, pikirnya.
Saat ia sudah sangat dekat...
“Loh kok? Kotor banget sih? Yang lain dibersihin terus kok yang ini engga ya? Aneh deh...”
Masih dengan tangan yang gemetar, ia mengambil sehelai tissue dari tasnya dan mulai mengelap punggung kura-kura yang terakhir. Setelah dirasa cukup, ia membasahi kura-kura itu.
“Ah, kok ga jelas sih tulisannya? Gara-gara kelamaan ga dibersihin sih... Jadi terkikis gini tulisannya. Kalo gitu, g bersihi aja deh.”
*****
What's next? ---

No comments:

Post a Comment