“Ma, Papa
berangkat dulu ya.”
“Iya, Papa ati-ati
ya. Nanti kalau sudah sampai langsung kabari Mama ya?”
“Iya, istriku yang
cantik... Hahaha...”
Tawa Dianna yang
mengiringi langkah suaminya menuju ke luar sirna seketika saat ia melihat
Edelline tengah melakukan sesuatu di samping kura-kura yang sudah lama tak
disentuhnya.
“Pa! Papa!”
“Ada apa, Ma? Kok
mukamu mendadak pucat?”
“Elline, Pa!
Elline!”
“Iya, ada apa sama
Elline? Ngomongnya yang jeelas dong, Ma... Elline kan udah berangkat ke
sekolah?”
Dianna yang lemas
seketika hanya bisa menunjuk ke arah puterinya itu. Evan yang bingung,
mengikuti arah pandangan istrinya dan menyadari apa yang membuat sang istri
terpaku seperti itu. Segera ia berlari ke garasi mencari puteranya. Wajahnya
pun berubah sepucat Dianna.
“Edward! Kamu
ngapain sih?”, Evan masuk dengan nafas terengah-engah dan tanggannya
mengapai-gapai ke arah Edward.
“Papa? Kok
dateng-dateng panik gitu, Pa?”, Edward memegangi kedua tangan Papanya.
“Itu liat adik
kamu, Edward! Kalo dia tau gimana?”, Evan masih berusaha mengatur nafas.
“Ga mungkin lah,
Pa... Siapa yang mau ngasitau dia?”, Edward semakin bingung. Baik Papa, Mama
maupun dirinya sudah sepakat untuk tidak membuka luka lama itu. Dan selain
mereka, tidak ada lagi yang tahu. Lalu, nagaimana mungkin Edelline akan
mengetahuinya?
“Ga akan ada yang
ngasitau dia, Edward! Kecuali kura-kura di kolam ikan!”, Papanya seketika
menegakkan badan lalu mengarahkan tangan kanannya ke luar, menunjuk ke arah
kolam ikan.
“Apa, Pa?”, Edward
terkejut. Ia lupa bahwa nama itu terukir di sana! Lima belas tahun yang lalu
nama mereka satu per satu memang sengaja diukir pada cangkang tiap-tiap
kura-kura itu.
“Sekarang juga
kamu keluar, kamu anter adik kamu ke sekolah! Urusan kamu, apa pun itu, Papa
jamin semua pasti beres!”, Evan menyentuh bahu Edward dan mendorongnya perlahan
ke arah mobil.
“I...Iya, Pa”,
Edward yang terkesiap langsung masuk ke mobilnya dan menyalakan mesin. Tak lama
kemudia mobil itu telah meninggalkan garasi. Tak sampai semenit ia sudah ada di
belakang adiknya yang sedang mengelap-elap lagi punggung kura-kura itu.
“Elline! Ayo!”,
kepala Edward mernyembul dari jendela mobil. Edward berusaha keras untuk
menyembunyikan kepanikkan dan kekhawatirannya.
“Eh, Kak, mmm,
boleh tunggu lima menit ga?”, Edelline berbalik lalu berdiri denga malas. Ia
masih belum menyampirkan tasnya ke bahu.
“Lima menit? Buat
apa?”, ada kegetiran dan ketakutan dalam diri Edward.
“Ini loh, Ka, aku
...”, Edelline menelengkan kepalanyam hendak menunjuk ke arah kura-kura yang
tak terawat itu. Namun Edward segera memotong.
“Ceritanya ntar di
jalan aja, ya. Mending sekarang kamu masuk. Ntar kamu telat. Ini kan hari pertama
kamu di SMA.”
“Tapi, Kak. Aku
... “
“Elline, dengerin
Kakak ya? Please?”
“Iya, Kak...”,
balas Elline dengan pasrah lalu mengambil tasnya dan masuk ke mobil, di sebelah
sang kakak.
Dalam perjalanan,
Edelline menceritakan soal penemuannya di kolam ikan itu. Ia bercerita dengan
penuh semangat sehingga tak menyadari wajah sang Kakak yang pucat pasi
mendengarkan ceritanya.
“Aneh kan, Kak?”,
ia menoleh ke arah Edward. “Kak?”
“Eh, iya, aneh-aneh.
Aneh banget.”, rasa panik memenuhi otaknya. Edward tidak mampu menjawab
pertanyaan adiknya. Ia takut. Takut adiknya akan terluka.
“Apa coba yang
aneh? Kakak ngelamunin apa sih daritadi? Pasti aku cerita ga didengerin deh...”,
edelline melipat tangannya di depan dada sambil memandangi Edward.
“Aduh, sorry,
De... Kakak lagi ga konsen tadi. Coba kamu ulang ceritanya. Sekarang pasti
Kakak dengerin deh.”, merasa sudah mulai tenang, Edward menanggapi ocehan adik
satu-satunya –yang selamat- itu.
“Hm... Ya aku aneh
aja, Kak. Kita sekeluarga kan Cuma berempat, dan di tiap punggung kura-kura itu
ada nama Papa, Mama, Kakak, sama nama aku. Tapi kura-kuranya ada lima. Terus,
yang satu lagi punya siapa ya, Kak? Kakak tau ga?”, Edelline kembali
berkonsentrasi dengan ceritanya hingga tak menyadari bahwamereka sudah sampai
di sekolahnya.
“Elline sayang,
kamu ga boleh terlalu mikirin hal yang ngga penting kaya gitu. Nanti kamu jadi
terpaku sama yang sama sekali nggga penting.”. Mobil itu memasuki lapangan
parkir.
Edelline bingung.
Tidak biasanya Kakak yang sangat suka bercanda dengannya mendadak tegang
seperti itu. Ditambah lagi, Edward tidak mau menjawab pertanyaannya.
“Nah, Linne, udah
nyampe nih! Semangat ya belajarnya! Jangan jutek loh sama temen-teman baru.
Ok?”, Edward mengecup kening adiknya. Itu adalah hal yang biasa ia lakukan saat
edelline mulai panik atau menangis jika mendapatkan ‘penglihatan-penglihatan’
yang kurang menyenangkannya. Biasanya dengan cara itu Edelline akan melupakan
ketakutannya dan kembali bermain.
“Oke, Kak... Aku
kan udah bukan anak kecil lagi.”, Edelline memasang muka cemberut ala anak
kecil dan menyilangkan tangannya di depan dada. “Ntar Kak Edward lagi yang
jemput?” ucap Edelline seraya turun dari mobil.
“Mmm... Itu Kakak
belum tau. Tunggu BBM Papa atau Kakak ya?”
“Oke deh, Kakakku
sayang, Kakakku ganteng! Hahaha... Aku masuk dulu ya!”, ia turun lalu menutup
pintu mobil.
“Iya, have fun
ya!”, Edwarde sedikit berteriak dari jendela mobil. Ia melihat Edelline berjalan
mundur beberapa langkah sambil melambaikan tangan lalu berbalik dan berjalan
menuju sekolahnya.
Edelline berdiri
di depan pintu utama sekolahnya dan tersenyum sambil melambaikan tangan pada
Kakaknya. Tidak sampai tiga menit, Jazz
biru itu sudah menghilang dari pandangan.
“Hmm... Ini dia
sekolah baru. Semoga gue betah ya!”, sebuah senyuman manis mengembang di
wajahnya.
No comments:
Post a Comment