Wednesday, 15 August 2012

Before Me (Chapter 1 Part 2)


“Ma, Papa berangkat dulu ya.”
“Iya, Papa ati-ati ya. Nanti kalau sudah sampai langsung kabari Mama ya?”
“Iya, istriku yang cantik... Hahaha...”
Tawa Dianna yang mengiringi langkah suaminya menuju ke luar sirna seketika saat ia melihat Edelline tengah melakukan sesuatu di samping kura-kura yang sudah lama tak disentuhnya.
“Pa! Papa!”
“Ada apa, Ma? Kok mukamu mendadak pucat?”
“Elline, Pa! Elline!”
“Iya, ada apa sama Elline? Ngomongnya yang jeelas dong, Ma... Elline kan udah berangkat ke sekolah?”
Dianna yang lemas seketika hanya bisa menunjuk ke arah puterinya itu. Evan yang bingung, mengikuti arah pandangan istrinya dan menyadari apa yang membuat sang istri terpaku seperti itu. Segera ia berlari ke garasi mencari puteranya. Wajahnya pun berubah sepucat Dianna.
“Edward! Kamu ngapain sih?”, Evan masuk dengan nafas terengah-engah dan tanggannya mengapai-gapai ke arah Edward.
“Papa? Kok dateng-dateng panik gitu, Pa?”, Edward memegangi kedua tangan Papanya.
“Itu liat adik kamu, Edward! Kalo dia tau gimana?”, Evan masih berusaha mengatur nafas.
“Ga mungkin lah, Pa... Siapa yang mau ngasitau dia?”, Edward semakin bingung. Baik Papa, Mama maupun dirinya sudah sepakat untuk tidak membuka luka lama itu. Dan selain mereka, tidak ada lagi yang tahu. Lalu, nagaimana mungkin Edelline akan mengetahuinya?
“Ga akan ada yang ngasitau dia, Edward! Kecuali kura-kura di kolam ikan!”, Papanya seketika menegakkan badan lalu mengarahkan tangan kanannya ke luar, menunjuk ke arah kolam ikan.
“Apa, Pa?”, Edward terkejut. Ia lupa bahwa nama itu terukir di sana! Lima belas tahun yang lalu nama mereka satu per satu memang sengaja diukir pada cangkang tiap-tiap kura-kura itu.
“Sekarang juga kamu keluar, kamu anter adik kamu ke sekolah! Urusan kamu, apa pun itu, Papa jamin semua pasti beres!”, Evan menyentuh bahu Edward dan mendorongnya perlahan ke arah mobil.
“I...Iya, Pa”, Edward yang terkesiap langsung masuk ke mobilnya dan menyalakan mesin. Tak lama kemudia mobil itu telah meninggalkan garasi. Tak sampai semenit ia sudah ada di belakang adiknya yang sedang mengelap-elap lagi punggung kura-kura itu.
“Elline! Ayo!”, kepala Edward mernyembul dari jendela mobil. Edward berusaha keras untuk menyembunyikan kepanikkan dan kekhawatirannya.
“Eh, Kak, mmm, boleh tunggu lima menit ga?”, Edelline berbalik lalu berdiri denga malas. Ia masih belum menyampirkan tasnya ke bahu.
“Lima menit? Buat apa?”, ada kegetiran dan ketakutan dalam diri Edward.
“Ini loh, Ka, aku ...”, Edelline menelengkan kepalanyam hendak menunjuk ke arah kura-kura yang tak terawat itu. Namun Edward segera memotong.
“Ceritanya ntar di jalan aja, ya. Mending sekarang kamu masuk. Ntar kamu telat. Ini kan hari pertama kamu di SMA.”
“Tapi, Kak. Aku ... “
“Elline, dengerin Kakak ya? Please?”
“Iya, Kak...”, balas Elline dengan pasrah lalu mengambil tasnya dan masuk ke mobil, di sebelah sang kakak.
Dalam perjalanan, Edelline menceritakan soal penemuannya di kolam ikan itu. Ia bercerita dengan penuh semangat sehingga tak menyadari wajah sang Kakak yang pucat pasi mendengarkan ceritanya.
“Aneh kan, Kak?”, ia menoleh ke arah Edward. “Kak?”
“Eh, iya, aneh-aneh. Aneh banget.”, rasa panik memenuhi otaknya. Edward tidak mampu menjawab pertanyaan adiknya. Ia takut. Takut adiknya akan terluka.
“Apa coba yang aneh? Kakak ngelamunin apa sih daritadi? Pasti aku cerita ga didengerin deh...”, edelline melipat tangannya di depan dada sambil memandangi Edward.
“Aduh, sorry, De... Kakak lagi ga konsen tadi. Coba kamu ulang ceritanya. Sekarang pasti Kakak dengerin deh.”, merasa sudah mulai tenang, Edward menanggapi ocehan adik satu-satunya –yang selamat- itu.
“Hm... Ya aku aneh aja, Kak. Kita sekeluarga kan Cuma berempat, dan di tiap punggung kura-kura itu ada nama Papa, Mama, Kakak, sama nama aku. Tapi kura-kuranya ada lima. Terus, yang satu lagi punya siapa ya, Kak? Kakak tau ga?”, Edelline kembali berkonsentrasi dengan ceritanya hingga tak menyadari bahwamereka sudah sampai di sekolahnya.
“Elline sayang, kamu ga boleh terlalu mikirin hal yang ngga penting kaya gitu. Nanti kamu jadi terpaku sama yang sama sekali nggga penting.”. Mobil itu memasuki lapangan parkir.
Edelline bingung. Tidak biasanya Kakak yang sangat suka bercanda dengannya mendadak tegang seperti itu. Ditambah lagi, Edward tidak mau menjawab pertanyaannya.
“Nah, Linne, udah nyampe nih! Semangat ya belajarnya! Jangan jutek loh sama temen-teman baru. Ok?”, Edward mengecup kening adiknya. Itu adalah hal yang biasa ia lakukan saat edelline mulai panik atau menangis jika mendapatkan ‘penglihatan-penglihatan’ yang kurang menyenangkannya. Biasanya dengan cara itu Edelline akan melupakan ketakutannya dan kembali bermain.
“Oke, Kak... Aku kan udah bukan anak kecil lagi.”, Edelline memasang muka cemberut ala anak kecil dan menyilangkan tangannya di depan dada. “Ntar Kak Edward lagi yang jemput?” ucap Edelline seraya turun dari mobil.
“Mmm... Itu Kakak belum tau. Tunggu BBM Papa atau Kakak ya?”
“Oke deh, Kakakku sayang, Kakakku ganteng! Hahaha... Aku masuk dulu ya!”, ia turun lalu menutup pintu mobil.
“Iya, have fun ya!”, Edwarde sedikit berteriak dari jendela mobil. Ia melihat Edelline berjalan mundur beberapa langkah sambil melambaikan tangan lalu berbalik dan berjalan menuju sekolahnya.
Edelline berdiri di depan pintu utama sekolahnya dan tersenyum sambil melambaikan tangan pada Kakaknya. Tidak sampai tiga menit, Jazz biru itu sudah menghilang dari pandangan.
“Hmm... Ini dia sekolah baru. Semoga gue betah ya!”, sebuah senyuman manis mengembang di wajahnya.

No comments:

Post a Comment