CHAPTER 1
Seorang gadis
berambut cokelat tua berlari turun dari tangga dan langsung menuju meja makan.
Ia memakai kemeja putih wanita berkerah bulat dan lengan pendek balon yang pas
sekali dengan lengannya. Sebuah pita hitam tersimpul di lehernya dengan rapi.
Rok selutut yang senada dengan dasinya pun dalam keadaan rapi dan pantas
sekali. Saat ia melangkah mendekati kedua orangtuanya, rambutnya yang panjang
digerai dibelai angin sepoi-sepoi yang masuk melalui taman di sebelah ruang
makan. Matanya yang sipit berwarna biru cerah, hidungnya kecil tapi mancung,
bibirnya yang tipis kecil dan warnanya semerah darah, dagunya yang manis serta
pipinya yang selalu merona pink tanpa sentuhan make up mebuat wajahnya manis
sekali.
Langkahnya kecil
dan gemulai, tubuhnya sangat proporsional. Kulitnya putih seperti ayahnya,
namun merona seperti sang Mama. Begitu melihat Papa Mamanya menoleh ke arahnya,
ia mempercepat langkah dan langsung melemparkan senyum. Segera ia mengahampiri
dan merangkul ayahnya dari belakang.
“Pagi, Papa! Pagi,
Mama! Pagi kakakku Edwward yang ganteng! Kok tadi ga bangunin aku sih?”
“Habis kamu
tidurnya lelap banget, sayang. Papa ga tega ah bangunin bidadari yang lagi
tidur.”
“Ahh, Papa nih...
Hahaha...”
“Aduh, ini anak
sama Papa kompak banget deh ya. Kalo udah sibuk berdua, Mama dilupain deh...”
Ia beranjak lebih
dekat pada Mamanya, “Ahh, Mama nih... Engga dong, Ma. Masa aku lupa sama
Mama...”
“Iya, sayang...
Mama tau kok...”, Mama tersenyum “udah, sekarang kamu duduk, terus kita sarapan
ya.”
“Ih, si putri
tidur udah bangun nih? Ga tunggu dicium pangeran dulu? Hahaha...”
“Hmm... Mulai deh
Kak Edward ngeledek lagi...”, Edelline memanyunkan bibirnya dan memasang wajah
cemberut.
“Ahahaha... Aduh,
adikku sayang, Edelline cantik, jangan ngambek dong... Kakak kan Cuma
bercanda...” ucap Edward menghibur adik kesayangannya itu sambil mengacak-acak
rambut Edelline.
“Ihh... Kak Edward
nih selalu deh ngacak-ngacak rambut aku! Kenapa? Rambut artis sih ya? Hahaha”
“Wah, kamu ini kepedean
ato emang pede abis, Line? Hahaha”
Tawa ceria selalu
menghiasi kebersamaan mereka. Meskipun yang terjadi adalah rutinitas seperti
biasa, cinta kasih di antara mereka membuat setiap detik kebersamaan layaknya harta yang sangat berharga.
“Elline, berangkat
yuk! Kakak udah beres nih makannya... Kamu lama banget...”
“Loh? Bukannya Pa
Dirman yang nganter aku?”
“Ehh,,, Pa Dirman
kan mau nganter Papa... Kok kamu monopoli sih? Hahaha...”
“Ah? Serius nih,
Pa... Jadi tiap hari aku berangkat sama siapa nih?”
“Sama Kakakmu yang
ganteng ini loh, Elline...”
“Hahaha... Elline,
kamu ternyata udah sama narsisnya sama Edward ya... Hahaha... Iya, kan kampus
kakakmu deket sama sekolahmu, jadi kamu berangkatnya sama Kak Edward ya?”
“Owh... Oke, Papa!
Iya dong, kan aku adiknya Kak Edward! Hahaha...”
“Ihh,,, putri Solo
lama yah... Ayo cepetan! Kakak ada kelas nih jam 8.”
“Ehh, udah-udah.
Ini udah jam berapa tuh? Cepetan sana berangkat. Kamu juga, Pa. Kamu hari ini
berangkat ke Korea kan?”
“Asik! Papa ke
Korea! Jangan lupa oleh-oleh ya, Pa! Hahaha...” jerit Edelline sambil
membentangkan kedua tangannya di atas kepala lalu memeluk Papanya yang juga
dibalas dengan pelukan hangat sang Papa.
“Iya, Elline,
sayang... Udah gih kamu berangkat!”
“Bye, Pa! Bye Ma!”,
Edelline bergerak lincah seraya mencium pipi Mamanya lalu melambaikan tangan.
“Dadah Papa, dadah
Mama!”, Edward mengikuti.
Dua remaja itu pun
melangkah keluar dengan canda menyertai. Mereka melewati jalan kecil yang di
desain khusus sesuai selera Mamanya dengan bebatuan kecil. Jalan itu lebarnya
kira-kira satu meter dan di pinggirnya ditanami rumput jepang yang sangat
hijau. Dari jalan itu, ada bagian kosong yang hanya ditanami rumput jepang, panjangnya
sekitar empat meter dan lebarnya tiga meter.
Baru setelahnya
terlihat rumpun bunga-bunga yang sangat indah. Kentara sekali bahwa rumpun
bunga itu mendapatkan perawatan yang sangat baik. Mawar, anggrek, lili,
anyelir, teratai di kolam ikan kecil , morning glory, bunga terompet di sudut
taman, lavender, bugenvil yang ditanam mengitari rumah, kamboja dalam pot-pot
kecil yang ditaruh di undakan-undakan tangga di depan rumah yang menuju ke
taman, dan beberapa jenis bunga liar yang sengaja ditanam di sekitar rumah
menambah keindahan taman itu.
Edward melangkah
ke garasi yang terletak di samping rumah. Garasi itu cukup besar karna cukup
untuk melindungi tiga buah –yang akan segera menjadi empat buah- mobil di
dalamnya. Edward menyuruh Edelline untuk menunggu di dekat kolam ikan.
Jika dilihat dari
atas, akan terlihat jelas seisi taman yang indah serta tatanan rumah itu. Pintu
utama rumah dengan pagar dihubungkan dengan jalan bebatuan kecil selebar satu
meter, dan di tengah jalan itu dibuat sebuah kolam ikan berbentuk lingkaran
dengan sebuah air mancur utama di tengahnya dan lima air mancur kecil berbentuk
kura-kura di tepi kolam yang arah aliran airnya menuju ke pusat kolam. Kolam
itu membuat jalan tersebut bercabang mengitari sisi kolam dan sisi yang lain
hingga akhirnya bertemu lagi pada jalur yang sama menuju pintu gerbang. Gerbang
itu terkesan mewah namun sederhana. Rangkanya terbuat dari baja namun tubuhnya
sengaja menggunakan kayu berwarna cokelat gelap.
Edelline sangat
betah berlama-lama di sana. Ia suka sekali duduk di tepian kolam sambil
memandangi ikan-ikan yang berenang ke sana – ke mari seolah-olah menyadari
kehadirannya. Sesaat ikan-ikan itu seperti hendak bersembunyi di bawah
rentangan daun-daun bunga teratai berwarna merah jambu yang menghiasi permukaan
kolam. Angin pagi yang lembut membelai-belai rambutnya. Rasanya nyaman sekali,
ingin lebih lama menikmati suasana itu. Edelline memutuskan untuk mengamati
kolam itu sambil berjalan mengitarinya. Ia suka menyentuh kelima kepala air
mancur kecil yang menghadap ke pusat kolam itu. Saat hendak menyentuh salah
satunya, matanya tertarik pada beberapa goresan kecil yang tampak teratur di
punggung kura-kura itu. Ia duduk sebentar dan memperhatikan.
Evander Louis Gregory
“Eh, ini kan nama
Papa! Mmm... Kayanya di tiap kura-kura ada namanya deh... Coba gue liat ah...
Lumayan daripada bengong nungguin Kak Edward. Hihihi...”
Ia pun
melangkahkan kakinya ke arah barat. Edelline memiliki indra keenam yang sering
disebut-sebut sebagai bakat –juga kutukan- yang diberikan Tuhan dengan tujuan
tertentu.
Dianna Lee
“Nama Mama!”
Tanpa pikir
panjang, gadis remaja itu meneruskan langkahnya ke arah barat laut dengan lebih
cepat. Ada perasaan yang menariknya dan mendorong rasa ingin tahu yang begitu
besar dalam dirinya.
Edward Lovianno Gregory
“Tepat dugaan gue!
Tiap kura-kura ini emang diukir sesuai nama tiap anggota keluarga! Kalo gitu,
yang satu itu pasti punya g!”
Langkah kaki si
gadis semakin cepat ke arah utara. Entah mengapa tapi ia merasa begitu
tertarik. Seolah tiap penggalan nama di punggung kura-kura itu adalah
kepingan-kepingan puzzle yang akan membawanya pada sesuatu.
“Aha! Ini dia nama
gue! Hahaha...”, dengan lincah ia segera duduk di sisi kura-kura yang besarnya
kira-kira dua kali bentangan telapak tangannya. Kura-kura nampak manis
bertengger di sisi kolam. Warnanya cokelat kehijauan, begitu serasi dengan
sekitarnya.
Edelline Lovianna Gregory
“Tapi kan
kura-kuranya ada lima... Sedangkan di rumah kan cuma berempat. Yang satu lagi
punya siapa ya?”
Seketika itu juga
jantungnya berdebar kencang. Wajahnya berubah pucat dan keringat dingin mulai
membasahi keningnya. Sekujur tubuhnya gemetar, kepalanya terasa pening. Ia
lemas. Pandangannya terus tertuju pada kura-kura yang terakhir.
“Gue ini kenapa
sih? Cuma penasaran doang kok sampe gemeter gini? Mmm... Kak Edward bilang
paling lama lima menit... Kalo gitu, gue cek aja deh. Mumpung masih ada waktu.”
Ia mulai
melangkahkan kakinya menapaki jalan yang mengitari kolam itu. Kali ini ia
melangkah perlahan-lahan. Entah mengapa rasanya ia akan menyesali
keingintahuannya kali ini. Tapi ia akan lebih menyesal lagi jika tidak mencari
tahu, pikirnya.
Saat ia sudah
sangat dekat...
“Loh kok? Kotor
banget sih? Yang lain dibersihin terus kok yang ini engga ya? Aneh deh...”
Masih dengan
tangan yang gemetar, ia mengambil sehelai tissue dari tasnya dan mulai mengelap
punggung kura-kura yang terakhir. Setelah dirasa cukup, ia membasahi kura-kura
itu.
“Ah, kok ga jelas
sih tulisannya? Gara-gara kelamaan ga dibersihin sih... Jadi terkikis gini
tulisannya. Kalo gitu, g bersihi aja deh.”
*****
What's next? ---